Minggu, 23 Desember 2012

Daftar Buku Pribadi



Kosmopolitanisme

Tarrow, Sidney. 2005. The New Transnational Activism. Cambridge University Press. New York.

Cohen, Robin & Rai, Shirin. 2000. Global Social Movements. The Athlone Press. New Jersey.

Diplomasi 
Diamond , L & Mcdonald, J. 1996. Multi-Track Diplomacy : A Systems Approach to Peace. Kumarian Press. Connecticut.

Berridge, G.R. 2001. Diplomacy : Theory and Practice. Palgrave. Leicester

Barston, R.P. 1988. Modern Diplomacy. Longman. New York.

Politik Luar Negeri

Rezasyah, Teuku. 2008. Politik Luar Negeri Indonesia. Humaniora. Bandung.

Wuryandari, Ganewati (ed.) 2011. Politik Luar Negeri Indonesia Di Timur Tengah Arus Perubahan Politik Internasional. Pustaka Pelajar. Jakarta.

Banyu Perwita, Anak Agung. 2007. Indonesia And The Muslim World : Islam and Secularism in the Foreign Policy of Soeharto and Beyond. Nias Press. Copenhagen.

Hara, Abubakar Eby. 2011. Pengantar Analisis Politik Luar Negeri. Nuansa. Bandung.

Regionalisme

Luhulima, C.P.F. Dinamika Asia Tenggara Menuju 2015. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

S, Nuraeini & Silvya, Deasy & Sudirman, Arifin. 2010. Regionalisme Dalam Studi Hubungan Internasional. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Teori Hubungan Internasonal

Jackson, Robert & Sorensen, George. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Terj Dadan Suryadipura. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Steans, Jill & Pettiford, Lloyd. 2009. Hubungan Internasional : Perspektif dan Tema. Terj Deasy Silvya Sari. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Burchill, Scott & Linklater, Andrew. 2009. Teori – Teori Hubungan Internasional. Terj M.Sobirin. Nusamedia. Bandung.

Morgenthau, J, Hans. 2010. Politik Antarbangsa. Terj Cecep Sudrajat. Direvisi oleh Kenneth W. Thompson. Yayasan Obor Bangsa. Jakarta.

Schouten, Peer. Wahyu Nugroho, Bambang & Rais, Ahmad Hanafi (ed.) 2012. Theory Talks. LP3M UMY & PPSK. Yogyakarta.

Griffiths, Martin. 2001. Fifty Key Thinkers in International Relations. Routledge. London.

Umum
Sitepu, Anthonius. 2011. Studi Hubungan Internasional. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Hata . 2012. Hukum Internasional : Sejarah Dan Perkembangan Hingga Pasca Perang Dingin. Setara Press. Malang.

Nye, S, Joseph . 2004. Soft Power : The Means To Success In World Politics. Perseus Books Group. New York.
Winarno, Budi. 2011. Isu – Isu Global Kontemporer. Center For Academic Publishing Service. Yogyakarta

Saraswati, Veronika Sintha. 2009. Imperium Perang Militer Swasta : Neoliberalisme dan Korporasi Bisnis Keamanan Kontemporer. Resist Book. Magelang.

Bubalo, Anthony. 2012. PKS & Kembarannya : Bergiat Jadi Demokrat di Indonesia, Mesir & Turki. Terj Samsyul Rijal. Komunitas Bambu. Jakarta.

Kamis, 06 Desember 2012

Theses, Indonesia, Peacekeeping Operation and my to do list.

To do List

UN-PKO :
How United Nations Peacekeeping Operation (UN-PKO) funding works 
How UN-PKO created.
What are the requirements for a country to join a UNPKO missions.
What is the (common) reason for a country join a UNPKO missions.

Indonesia in UN-PKO :
What is Indonesia's contribution to UN-PKO budget.
What is Indonesia's contribution to UN-PKO personels and hardware (done)

Urgent Question (to avoid the presence of an omitted variable) to answer :
1.  What's with the increase of Indonesia peacekeeping operation ? is it only because the demand for personels increase (demand) or there are other reasons from the supply section such as ; Indonesia actively promoting and increasing it's capabilitiess

to answer the question above, things to observe is :

1. Total indonesia peacekeeper to total UN peacekeeper ratio (done)
2. The requirement to participate in an UN PKO.
3. The uniquness in indonesia peacekeeper and indonesia foreign diplomacy, so indonesia can be the on the demand priority list, thus this will explain the increase of Indo PKO. Yaaaayyy.

After that, i can move to the national interest question more freely.



such a mess.... but i hope everything will be improved in a matter of weeks, if not day.

Senin, 03 Desember 2012

Building Blocks of the Research Process - Levels

An Overview of the Levels of Research

Theory : Concept 1 is related to concept 2.
Hypotheses : Variable 1 is related to variable 2
Operational : Operational definition 1 is related to Operational definition 2.

Example 1 

Theory : Economic development is related to political development
Hypotheses : The more industrialized a nation, the greater level of mass political participation
Operational : The higher the percentage of the labor force engaged in manufacturing, according to the United Nations Yearbook, the higher the percentage of the population of voting age that participated in the most recent national election, according the Statesman’s Yearbook.

Example 2 :

Theory : Socioeconomic status effects political participation
Hypotheses : The higher a person’s income, the more likely he or she is to vote.
Operational : The higher a survey respondent’s answer when he or she is asked, “What is your house-hold’s annual income,” the more likely that perrson will answer “Yes” when asked, “Did you vote in the election last November?”

Jumat, 16 November 2012

Palestine Rocket - Israeli Occupation in a nutshell



Just to make things clear :

Take my water : confiscation of water sources by settlers.
Burn my olive trees : settler attacks on palestinians source of income.
Destroy my house : Israeli demolition of palestinian homes.
Take my job : The building of the separation barrier.
Starve us all : Israels blockade on Gaza.
Humiliate us all : Not allowing Palestine to become a member of the UN. 500.000 israeli settlers and soldiers inside Palestine Territory.

Selasa, 13 November 2012

Desain Rasional dari Institusi Internasional

 Variasi Institusi Internasional

Mengapa Institusi internasional sangat bervariasi dalam konteks : fitur utama sebuah institusi seperti keanggotaan, ruang lingkup, dan fleksibilitas? Barbara Koremenos, Charles Lipson, and Duncan Snidal dalam buku “The Rational Design of International Institutions” berargumen bahwa aktor internasional adalah agen pencari tujuan yang membuat pilihan dalam desain institusi untuk memecahkan permasalahan dalam kerjasama, dalam berbagai isu dan area.

Beberapa konstruktivis berpendapat bahwa lembaga memainkan peran penting dalam menyebarkan norma-norma global. Tapi akan menyesatkan (terutama dari sudut pandang realis) untuk berpendapat bahwa lembaga-lembaga internasional sebagai aktor internasional yang independen. Instutitusi internasional adalah hasil kreasi negara atau subnegara yang rasional. Di sisi lain, institusi Internasional bukanlah bejana kosong kekuasaan negara seperti kaum realis katakan. Negara-negara jarang sekali memperbolehkan lembaga-lembaga internasional untuk menjadi aktor tersendiri yang otonom, tetapi institusi tetaplah mempengaruhi outcome. Inilah sebabnya mengapa negara-negara saling berebut dalam mengatur desain sebuah institusi internasional, terutama karena institusi tidak dapat diubah dengan cepat atau mudah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan konfigurasi kekuasaan internasional.

Dalam tulisan ini akan diperkenalkan kerangka teori dari "Rational Design Project" kreasi 3 penulis diatas. Terdapat 5 fitur penting dari institusi yaitu : Keanggotaan (Membership), Ruang Lingkup (Scope), Sentralisasi (Centralization), Kendali (Control), dan Fleksibilitas (Flexibility). Kemudian kita menjelaskan variasi dari 5 fitur ini dikaitkan dengan 4 variabel independen yang akan menunjukkan perbedaan dalam permasalahan kerjasama : Distribusi, Jumlah aktor, enforcement dan ketidakpastian. Kami mengacu pada teori pilihan rasional untuk mengembangkan serangkaian dugaan yang secara ilmiah/empiris dapat dipersangkalkan/disalahkan, yang dapat menjelaskan variasi dari institusi internasional.

Selasa, 06 November 2012

Efektivitas Rezim Internasional

Pendahuluan

Dalam melihat rezim, terdapat usaha dalam membangun kerjasama dan mengimplementasinya. Namun permasalahannya, tingkat keberhasilan atau implementasi dari sebuah rezim bervariasi, terdapat rezim yang dapat dikatakan sukses ataupun gagal[1]. Pnyebabnya ada dua hal : Pertama terdapat pada karakter dari masalah itu sendiri: beberapa masalah secara intelektual kurang rumit atau secara politik lebih benign daripada yang lain dan karena itu lebih mudah untuk diselesaikan. Kemungkinan jawaban kedua focus pada problem-solving capacity: beberapa usaha lebih sukses dibandingkan dengan yang lainnya karena perangkat institusional yang lebih powerful atau skill dan energy yang lebih besar digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Obama dan Medvedev menandatangani perjanjian START 2010
 Dalam konsep efektivitas rezim Arild Underdal melakukan pemilahan antara variabel dependen, yaitu efektifitas rezim dengan variabel independen, yang terdiri dua hal yaitu : tipe permasalahan, dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan tersebut[2]. Kemudian ada juga yang disebut intervening variable, sebuah variabel yang merupakan akibat dari variabel - variabel independen namun juga bagian dari variabel yang berpengaruh terhadap variabel dependen[3]. Intervening variable disini menggunakan level of collaboration, atau tingkat kolaborasi antara anggota dari sebuah rezim.